Tampilkan postingan dengan label Pernikahan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pernikahan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 13 April 2018

Teman Hidup [2] (not final yet)


Topik teman hidup memang sering sekali jadi bahan diskusi tiada akhir. Topik yang selalu misterius, sulit dimengerti namun mudah sekali berubah, selalu ada hal baru yang bisa dipelajari. Entah berubah karena terlalu banyak faktor luar atau ternyata kita hanya belum mengerti benar, sehingga perubahan itu bukanlah sebuah perubahan tapi hanya sebuah proses untuk semakin mengerti. Misterius.

Sekali lagi, tulisan ini tidak punya jaminan buat harus dipercaya dan tidak cukup akurat untuk diaplikasikan. Bukan hanya karena saya belum menikah apalagi mencapai pernikahan tahan uji, tetapi juga karena saya tidak punya banyak pengalaman dalam hal berpacaran, pengalaman dalam hal memahami banyak pria yang nantinya menjadi teman seumur hidup, bagaimana kita boleh yakin atau tinggalkan saja. :p

Hanya  ingin berbagi pemikiran. Sebuah prinsip yang setidaknya sekalipun dunia menghakimi kita dengan status pernikahan di usia-usia tertentu, kita boleh tetap bahagia sebagai single (yang berkualitas tentunya) namun tetap berpengharapan penuh untuk memiliki pernikahan dewasa yang "indah". Tentunya bukan karena tak punya masalah, tapi sebuah pernikahan ideal yang tidak menambah beban hidup kita, tapi memiliki partner berbagi beban hidup yang semakin besar seiring bertambahnya usia terlebih ketika kita ingin punya hidup yang berdampak bagi sekitar. Kita perlu partner untuk bekerja sama bukan malah menambah beban hidup sehingga waktu dan energi kita habis hanya untuk menghadapi pasangan kita. :(

Jadi  tulisan ini bukan juga tentang kampanye "Single lebih baik", tapi berbagi bahwa pernikahan itu bagi saya adalah anugerah dan juga mujizat, sesuatu yang tidak bisa dibuatkan resepnya, tidak ada formula baku "Jika A maka B". Hanya perlu kuasa Tuhan saja supaya kita tidak salah mengambil keputusan. Hanya kuasa Tuhan saja, sehingga segala macam rintangan dilewati sampai akhirnya dipersatukan di waktu yang indah dengan cara yang tak terduga. Kejutaaaaaaaaan 😆 

Dan perlu kuasa Tuhan juga untuk menghadapi segala tantangan dalam membangun dan mempertahankannya.

Ditulisan sebelumnya dibilang juga "Hanya kuasa Tuhan saja lho (bagi saya)" yang akan mempersatukan pernikahan yang benar sesuai dengan tujuan awal Tuhan mempersatukan Adam dan Hawa. Tapi manusia juga punya bagiannya, bagiannya apa? Ya kalau hanya kuasa Tuhan manusia ga perlu usaha apa-apa dong. Ya iyaa siiih, tapi ga jugaaa, sebagai makhluk paling mulia yang dispesialkan memiliki akal budi dan kehendak bebas, kita juga perlu meresponi hal-hal yang terjadi oleh karena kuasa Tuhan, respon yang akhirnya menentukan keputusan yang kita ambil, menikah sebagai panggilan? menikah sebagai gengsi? Atau menikah karena tertipu? Terjebak? Oooops.  

BAIKLAH, JADI RESPONNYA APA?

Mungkin saya mau sedikit berbagi pengalaman dulu. Topik pengalaman seringnya lebih menarik sih daripada teori-teori yang (hanya) menambah pengetahuan. Pengalaman yang akhirnya mengantarkan saya pada titik bahagia walaupun belum menikah :p, pengalaman sebagai pembelajaran berharga yang akhirnya membuat saya belajar bagaimana menghargai "pasangan" kita sekalipun belum dipertemukan. (uuuuh, So swiiiit :p)

Berawal dari seorang anak kecil yang takut melanggar aturan orang tua yang melarang berpacaran sampai kuliah, didukung dengan imajinasi seorang anak kecil yang terpengaruh oleh cerita dongeng dan komik serial cantik yang mengajarkan bahwa cinta pertama itu selalu mengesankan sampai akhirnya taat untuk tidak berpacaran dan berharap pacar pertama kelak menjadi suami. Perjalanan seorang anak kecil yang menantikan waktu boleh pacaran dengan menghayal inginnya punya pasangan seperti apa, ga perlu lah yaa disebut ciri-cirinya, demi menghindari konflik tak berarti dengan pasangan nantinya (hmmmm bisa dibilang ini salah satu menghargai pasangan juga, karena siapapun dia bukan untuk dibanding-bandingkan dan bukan untuk dinilai secara fisik :p).

Sampai akhirnya beberapa lama setelah kuliah, penantian belasan tahun itu (entah kenapa) terjawab sesuai dengan impian seorang anak SD. Bertemu dan akhirnya mau berpacaran dengan seseorang yang sama-sama berpikir untuk menikah nantinya, bukan pacaran ala-ala remaja sekedar teman penyemangat. Dengan segala macam tipikal yang persis sesuai dengan impian yang pernah diharapkan sejak masa kanak-kanak membuat sebuah kepuasan dalam diri sampai pernah tercetus dalam hati "akhirnya aku bisa menikah muda, dengan pacar pertama". Pemikiran yang secara tidak langsung membuat saya mengejar satu goal untuk menikah muda dan menikah dengan pacar pertama tanpa memikirkan apakah relasi ini sehat atau tidak. Menganggap pernikahan sebagai impian yang harus dicapai bukan sebagai panggilan. Menganggap bahwa pernikahan impian itu bisa dicapai jika kita menyiapkannya sesuai dengan aturan yang berlaku. 

Sampai akhirnya Tuhan memproses, menolong dan mengantarkan saya pada pengertian bahwa Pernikahan itu sebuah anugerah dan mujizat, tidak ada resep atau formula, perlu iman bahwa Tuhan punya kuasa untuk menghalau segala kemustahilan sampai akhirnya mempersatukan pria dan wanita dalam sebuah ikatan suci pernikahan. Semua perencanaan dan persiapan dan ketaatan selama belasan tahun itu tidak menjamin kita bisa menikah dengan pasangan impian di waktu yang tepat. Lagipula apa sih yang bisa dikategorikan sebagai pasangan impian? Dan secepat atau seterlambat apa waktu untuk menikah itu sehingga kita bisa katakan menikah diwaktu yang tepat? ... Teman Hidup [1]

Jumat, 30 Maret 2018

Teman Hidup [1]

Because Good Music Can be So Hard To Find (Maroon Five)


Postingan ke -2. Sejujurnya ini agak maksa, tapi ya sudahlah ya. Katanya Dua itu identik sama sepasang, Satu yang ditemani oleh satu yang lainnya, berpasangan. Jadi postingan ke-dua ini mari membahas tentang pasangan. Pasangan hidup tentunya. Seminggu ini lagi banyak yang curhat tentang ini sih, jadi ga maksa-maksa banget lah. :P
Mungkin tulisan ini bukan tulisan yang bisa dipercaya karena penulisnya bukanlah orang yang sudah ada pada titik mengalami pernikahan tahan uji yang ingin berbagi cerita keberhasilannya. Tapiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii setidaknya jumat ini ada hal yang bisa ditulis, dan kebuntuan ide itu akhirnya diruntuhkan oleh angka “DUA” (tetep maksa :p). Tapi tetap saja, menuliskan tentang hal ini cukup sulit, terlalu banyak teori dan cerita pengalaman yang akhirnya membuat saya semakin [tidak] mengerti. Tapi yang saya yakini adalah, “Pernikahan merupakan sebuah mujizat, maka pernikahan sejatinya tidak bisa dipaparkan dalam sebuah logika entah untuk memulainya atau menjalaninya, yang dibutuhkan hanyalah kerendahan hati manusia mempercayakan kuasa Tuhan mempersatukan dua manusia dalam ikatan suci pernikahan, yang hanya dipisahkan oleh maut, masing-masing pasti punya cerita uniknya sendiri.” Demikianlah teori ke-soktahuan saya.
Walaupun belum mengalami, tapi saya cukup beruntung pernah terlibat dalam proses beberapa pasangan dengan segala macam ceritanya sampai akhirnya menikah dan boleh sedikit mendengar tentang warna-warni hidup pernikahan mereka, sampai saya memahami bahwa “Sehebat apapun sebuah pernikahan, seharmonis apapun mereka, pasti ada satu waktu yang pernah mereka alami sampai harus berkata 'kok bisa aku mau nikah sama orang kayak begini?', 'aku nyesel nikah sama dia!', dan lain sebagainya.” Tapi mungkin itu hanya salah satu warna yang mengisi kehidupan pernikahan, karena tentu saja menyatukan 2 pribadi yang berbeda bukanlah hal yang mudah. Ujian dan tempaan datang untuk membentuk masing-masing pribadi yang tidak sempurna itu menjadi lebih indah bahkan menjadi semakin dekat ketika mereka mau berjuang bersama. Jadi inget sama teori : “Kebanyakan orang yang senasib itu jadi lebih kompak, makanya ospek seringnya bikin satu angkatan lebih kompak, karena mereka senasib, berjuang untuk hal yang sama dan bekerja sama”. Jadi bisa aja sebenarnya yang membuat sebuah pasangan menjadi teladan dan harmonis bukan karena mereka sudah menjadi yang terbaik versi mereka, dipersatukan dan bahagia selamanya, seolah-olah karena mereka sudah baik lalu masalah pun menjadi tidak ada. Tapi mereka benar-benar menjadi pasangan 'senasib' yang bekerja sama berjuang melewati tantangan-tantangan yang harus dilewati.
Entah kenapa setiap kali teman mau menikah, saya selalu penasaran untuk menanyakan “Kamu yakin?”, bahkan sampai pernah memohon supaya teman saya untuk sejujurnya mengaku “Yakin atau ragu?, pliiiiiiisssss simpen dulu cinta kamu sebentar untuk berpikir jernih, YAKIN?” hahhahaha
Karena berdasarkan pengalaman, cinta seringnya menutupi banyak hal yang membuat kita (mungkin) jadi salah ambil keputusan:
  • Saya pernah ada dalam posisi merasa memiliki perbedaan pandangan, tapi kompromi karena merasa punya kesukaan yang sama (musik, film, bacaan, dll yang kebanyakan ga penting :p)
  • Saya pernah ada dalam posisi merasa punya mimpi yang berbeda, tapi kompromi karena merasa, yang penting bukan dimana, mengerjakan apa? tapi yang penting dengan siapanya?, (ya dengan kamu -_-) --> udah tobat :p
  • Saya pernah ada dalam posisi merasa punya iman (bukan agama) yang berbeda, tapi kompromi karena dia punya hati yang baik
  • Saya pernah ada dalam posisi punya banyak sekali perbedaan prinsip, tapi kompromi karena lebih sering menutup mata dan mengabaikan perbedaan itu dan memilih melakukan dan membahas yang membuat happy saja
  • Dan parahnya, saya pernah dalam posisi merasa dia menjadi tidak baik karena saya tidak memberikan support, dan merasa bertanggung jawab untuk memberikan dukungan kepada orang yang dengan sadar saya tau 'tidak baik' -_-
  • Daaaaaaaannnnn banyak lagi hal yang saya yakin sering tidak masuk akal tapi sering diabaikan, dikompromikan karena alasan 'sayang' -_-
    Sampai akhirnya dengan kuasa Tuhan kami dipisahkan, sebagai jawaban doa dari keraguan saya beberapa bulan terakhir setelah menjalani 5 tahun namun tidak berani mengakhirinya :p, Dengan kuasa Tuhan juga untuk case lainnya Tuhan menganugerahkan keberanian berpikir jernih dan tersadar bahwa relasi ini salah, dan mengakhirinya dengan penuh keyakinan dan mengabaikan sejenak apa yang orang sering sebut sebagai 'sayang' lalu berbuahkan rasa syukur dan bangga pada diri sendiri karena pernah mampu punya akal sehat ketika dalam kondisi 'jarang bisa berpikir pakai akal sehat' :p (lebay, padahal pernah galau-galau juga). Dari situ saya belajar bahwa sebetulnya ketika kita mengalami keraguan yang malah membuahkan kompromi yang berpusat pada diri sendiri (bukan Tuhan), itu adalah tanda bahwa kita tidak boleh ambil keputusan menikah.
Jadi saya selalu percaya, Tuhan tidak mungkin tidak menuntun kita, saya percaya jika memang ada pernikahan yang 'gagal', tentu Tuhan sudah mengingatkan dari awal. Tapi sekalipun pernikahan itu tetap berlangsung, setidaknya pertanyaan memaksa dari saya tentang yakin atau tidak kepada teman saya itu bisa menjadi pengingat bahwa 'Mereka pernah sangat yakin dengan pilihan mereka, jadi jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan suatu hari maka mereka harus bertanggung jawab untuk berjuang mempertahankannya karena itulah keyakinan mereka dari awal, tidak boleh menyalahkan siapapun apalagi Tuhan. Itu yang kalian yakini, berjuanglah!
Hmmmmmmmm ceritanya agak berat yaaa, tapi lagi-lagi karena pernikahan adalah mujizat, cerita setiap orang berbeda, yang sama adalah 'perlu kuasa Tuhan' yang menjadi satu-satunya andalan, entah untuk mempertemukan bahkan mempersatukan dan juga dalam memeliharanya agar tetap utuh. Tapi jangan lupa juga dengan bagiannya (respon) kita sebagai manusia, nah soal ini lanjut di jumat depan aja ya.. *.<